Adil Dalam Kemakmuran dan Makmur Dalam Keadilan
Di Era Globalisasi ini, permasalahan hidup umat manusia
semakin kompleks. Berbagai persoalan yang semakin rumit bermunculan disana-sini
silih berganti. Diantara masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia,
antara lain: 1) Jeritan tangis karena kemiskinan dan kemelaratan; 2) Sulitnya
untuk mendapatkan kesempatan kerja dan masih adanya pengangguran; 3) Ambisi
jabatan dan pangkat yang cara mendapatkannya sampai melupakan aturan dan etika;
4) Pertikaian dan perpecahan; penjarahan dan kerusuhan; pembunuhan dan
pemerkosaan; penyiksaan dan perampasan; rebutan harta dan makanan; 5) Melangitnya
harga kebutuhan pokok yang tak terkejar oleh kebanyakan masyarakat kecil; 6) Banyaknya
bunuh diri massal, karena kesulitan makan dan lilitan hutang; dan 7) Masih
banyak lagi persoalan-persoalan besar lainnya berupa musibah dari Allah yang
bertubi-tubi dengan silih berganti.
Semua itu tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi sangat erat
hubungannya dengan hukum sebab akibat atau disebabkan oleh perbuatan
manusia yang zalim terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya, lebih-lebih
kepada Tuhannya. Mereka lupa, tidak mau bersyukur atas nikmat Allah Swt
yang telah diberikan kepadanya. Hal itu telah ditegaskan di dalam al Qur’an
surat Ibrahim (14): 7, yang artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Karena kebanyakan umat manusia tidak bersyukur atas nikmat
yang diterima, maka datang bertubi-tubi dan silih berganti musibah dari Allah
Swt. Sudah selayaknya, kita hendaknya pandai-pandai mensyukuri setiap nikmat
yang kita terima – besar ataupun kecil.
Pada hakekatnya kehidupan manusia yang semakin ruwet itu
berpangkal pada makin gelapnya hati nurani manusia. Semakin tidak jelas arah
hidupnya. Semakin jauh dari rasa syukur terhadap pemberian dari Tuhannya.
Integritas dan identitas pribadinya telah hilang. Mereka telah kehilangan makna
dirinya. Sifat hewaniyahnya telah menguasai kehidupannya. Tidak ada rasa solidaritas
di antara sesama. Egois dan hanya memikirkan isi perut atau kelompoknya sendiri
dan selalu merasa kekurangan. Kalau sudah demikian ini keadaan manusia, bukan
hatinya yang berbicara, melainkan nafsunya yang angkara murka. Inilah yang
disebut hilangnya fitrah insani.
Kita harus menjadikan ibadah yang dilaksanakan sebagai
laboratorium, guna membangun manusia baru yang memiliki kekuatan dan semangat
besar. Membangun bersama Negara Indonesia di Era Globalisasi ini. Kita jadikan
diri kita sebagai benteng-benteng yang perkasa, dengan memperkokoh iman dan
taqwa. Memperteguh persatuan dan kesatuan untuk membangun bangsa dan Negara
Indonesia. Jangan hanya pandai mencari-cari kesalahan orang lain. Dan jangan
merasa tidak bersalah. Jangan egois dan saling memecah belah. Mari kita
perhatikan firman Allah dalam Al Qur’an surat Ali Imran (3): 103, yang artinya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.
Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu
dari pada nya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu
mendapat petunjuk. “
Kemiskinan dan keterbelakangan bangsa Indonesia masih sangat
terasa. Itu menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintrah dan masyarakat.
Itu menjadi tanggung jawab bersama antara Umara’ dan Ulama’. Yang kuat –
membantu yang lemah. Yang kaya – membantu yang miskin. Yang miskin –
menghormati yang kaya. Sehingga lahirlah rasa timbal balik yang indah dan damai
antara kedua belah fihak itu. Terpadu dua sifat yang mulia, kasih sayang
dan penghormatan.
Salah satu tanda-tanda orang bertaqwa adalah, sanggup
menafkahkan hartanya (di jalan Allah) baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Ali Imran (3): 134, yang artinya:
“…(muttaqin itu ialah) orang yang sanggup mengeluarkan hartanya baik di
waktu lapang maupun sempit.”
Mereka menjadi orang yang dermawan, penyayang, belas kasihan
terhadap sesama, berjiwa besar, berjiwa pembangun, kreatif, berdedikasi
tinggi, kredibel, akseptabel, jujur, amanah dan penuh tawakkal kepada
Allah Swt. Inilah manusia baru yang sangat berguna bagi bangsa Indonesia. Jiwa
manusia seperti ini yang sangat dibutuhkan oleh pemerintah untuk diajak bersama
membangun bangsanya yang sedang mengalami berbagai kesulitan hidup.
Apabila bangsa Indonesia telah memiliki jiwa dan
semangat yang mulia seperti itu, insya Allah Negara Indonesia menjadi adil
makmur, sejahtera, aman, tentram dan damai. Adil dalam kemakmuran, dan makmur
dalam keadilan. Ada tuntunan dari Rasulullah Saw untuk menegakkan suatu
kehidupan dunia. Nabi Saw pernah bersabda, yang artinya:“Kokohnya kehidupan
dunia lantaran empat perkara, yaitu : dengan ilmu para Ulama’ atau kaum cendekiawan,
adilnya para pemimpin / pejabat, kedermawanannya orang-orang kaya
(konglomerat), keridloan dan do’anya orang-orang fakir miskin (dukungan lapisan
bawah).”
Kalau empat perkara itu ada di suatu negara, insya Allah
masyarakatnya menjadi maju, adil dan makmur serta aman dan sejahtera.
Marilah kita bersama-sama berupaya dan berusaha untuk menciptakan
suasana aman, tentram dan damai. Kita bangun kebersamaan dan pupuk rasa
persatuan. Kita lestarikan lingkungan hidup dan pelihara hutan serta lautan
kita. Kita bangun kembali Negara Indonesia yang kita cintai ini. Menjadi Negara
yang adil makmur di bawah ridha dan ampunan Allah Yang Maha Pengampun. Baldatun
Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Aaamiiin.
Komentar
Posting Komentar